Menu

Rabu, 21 September 2016

Pemeriksaan Kadar hemoglobin Metode Sahli




LAPORAN HEMATOLOGI
“Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Sahli”

`           Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Hematologi I




Kelompok 1
Ina Nurlaela                1311C1003
Vita Nuramanah          1311C1004    
Ine Febri Zulkurnia      1311C1013
Vanessa Ayu Sumirat  1311C1025

Jurusan S1 Analis Medis
Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih
2015



Judul             : Pemeriksaan Hemoglobin
Tanggal          : 21 September 2015
Metode           : Sahli
Prinsip            :
HCl 0,1 N akan mengubah Hemoglobin dalam darah menjadi asam hematin, perubahan warna yang terjadi (coklat) dibandingkan dengan warna standar.
Tujuan           : Untuk memeriksa kadar Hemoglobin dalam darah
Sampel            : Nn.Vanesa
Nilai Normal  :
Perempuan = 12-16 g/dL
Laki – laki =14-18 g/dL
Dasar Teori :
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Terdapat dua kelas sel yang tersebar di seluruh plasma darah, yaitu sel darah merah yang mengangkut oksigen, dan sel darah putih yang berfungsi dalam pertahanan tubuh. Meskipun sel darah merah berukuran sangat kecil, sel itu mengandung sekitar 250 juta molekul hemoglobin, sejenis protein pengikat dan pembawa oksigen yang mengandung besi. Baru-baru ini para penelitian telah menemukan bahwa hemoglobin juga berikatan dengan molekul gas nitrat oksida (NO) selain dengan O2. Ketika sel darah merah lewat melalui hamparan kapiler paru-paru, insang, atau organ respirasi lainnya, oksigen akan berdifusi ke dalam eritrosit dan hemoglobin akan berikatan dengan O2 dan NO. hemoglobin akan membongkar muatannya dalam kapiler sirkuit sistemik. Di sana O2 akan berdifusi ke dalam sel-sel tubuh. NO akan merelaksasikan dinding kapiler, sehingga dapat mengembang.hal tersebut mungkin berperan dalam membantu mengirimkan O2 ke sel (Campbell, 2004).
Hemoglobin merupakan suatu senyawa kompleks globlin yang dibentuk 4 sub unit, masing-masing mengandung suatu gugusan hem yang dikonjugasi ke suatu polipeptida. Hem adalah turunan porofirin yang mengandung zat besi (Fe). Hemoglobin menjadi satu dengan oksigen udara yang terdapat di dalam paru-paru hingga terbentuk yaitu oksihemoglobin, yang nantinya melepaskan oksigen menuju sel-sel jaringan tubuh. Proses oksihemoglobin memerlukan besi dalam bentuk ferro di dalam molekul hemoglobin. Oksigen yang terikat jumlahnya sama dengan jumlah atom besi. Tiap gram hemoglobin akan mengangkut sekitar 1,34 ml oksigen. (Frandson, 1993). Maka dari itu besi penting dalam pembentukan hemoglobin, mioglobin, dan substansi lainnya seperti sitokrom, sitokrom oksidase, peroksidase, dan katalase (Sawali, 2013).
Menurut Guyton (1997), sintesis hemoglobin diawali dari dalam proeritoblast kemudian dilanjutkan dalam fase retikulosit dalam sumsum tulang. Tahap dasar kimiawi pembentukan hemoglobin yaitu suksini KoA yang dibentuk dalam siklus Krebs berikatan dengan glisin untuk membentuk senyawa pirol yang menyatu membentuk senyawa protoporfirin. Kemudian senyawa tersebut berikatan dengan besi menggunakan bantuan enzim ferokelatase membentuk molekul heme. Setiap molekul heme bergabung dengan rantai polipeptida panjang (globin) membentuk suatu subunit hemoglobin.  Menurut Campbell (1995) menyatakan bahwa padaberbagai jenis unggas yang normal, hemoglobin menempati sepertiga dari volume sel darah merah (Sawali, 2013).
Penyakit dan kondisi yang menyebabkan tubuh menghasilkan sel darah merah yang lebih sedikit dari biasanya meliputi:
  1. Anemia aplastik
  2. Kanker
  3. Obat-obatan tertentu, seperti obat anti retroviral untuk mengobati infeksi HIV dan kemoterapi untuk kanker dan kondisi lainnya
  4. Sirosis
  5. Limfoma Hodgkin (penyakit Hodgkin)
  6. Hipotiroidisme (gangguan tiroid)
  7. Anemia defisiensi besi
  8. Penyakit ginjal
  9. Keracunan timbal
  10. Leukemia
  11. Multiple myeloma
  12. Sindrom myelodysplastic
  13. Anemia defisiensi vitamin
Penyakit dan kondisi yang menyebabkan tubuh Anda menghancurkan sel-sel darah merah lebih cepat dari yang dapat dihasilkan :
  1. Pembesaran limpa 
  2. Porfiria  
  3. Anemia sel sabit  
  4. Thalassemia  
  5. Vaskulitis
Kadar hemoglobin rendah juga dapat disebabkan oleh kehilangan darah, yang dapat terjadi karena:
  1. Perdarahan dari luka 
  2. Perdarahan pada pencernaan atau saluran kemih 
  3. Sering donor darah  
  4. Periode menstruasi yang berat  
  5. Mimisan
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin yaitu sebagai berikut (Sopny, 2010) :
1.      Kecukupan Besi dalam Tubuh
Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia defisiensi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien esensial dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengangkutoksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, untuk dieksresikan ke dalam udara pernapasan, sitokrom, dan komponen lain pada sistem enzim pernapasan seperti sitokrom oksidase, katalase, dan peroksidase. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot.
2.      Metabolisme Besi dalam Tubuh
Besi yang terdapat di dalam tubuh orang dewasa sehat berjumlah lebih dari 4 gram. Besi tersebut berada di dalam sel-sel darah merah atau hemoglobin (lebih dari 2,5 g), myoglobin 150 mg), phorphyrin cytochrome, hati, limpa sumsum tulang (> 200-1500 mg). Ada dua bagian besi dalam tubuh, yaitu bagian fungsional yang dipakai untuk keperluan metabolik dan bagian yang merupakan cadangan. Metabolisme besi dalam tubuh terdiri dari proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan dan pengeluaran.
Kadar haemoglobin dalam darah maupun kerja atau fungsi haemoglobin yang optimal dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa hal meliputi (Rindamusti,2012) :
1.      Makanan atau gizi
Zat-zat gizi atau komponen gizi yang terdapat dalam makanan yang dimakan digunakan untuk menyusun terbentuknya haemoglobin yaitu Fe (zat besi) protein.
2.      Fungsi Jantung dan paru
Jantung berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Dalam darah terdapat haemoglobin yang membawa oksigen keseluruh tubuh sebagai pembentukan energi. Sedangkan paru berfungsi untuk menghisap oksigen dari udara luar yang kemudian disuplai ke aliran darah dengan adanya ikatan antara haemoglobin dan paru mempengaruhi kerja jantung yang optimal.
3.      Fungsi Organ-organ Tubuh Lain
Misalnya fungsi hepar dan ginjal yang membantu dalam proses pembentukan eritrosit dan haemoglobin.
4.      Merokok
Menurut Giam,C.K dan The K.C(1993:47) merokok mengurangi kelembaban haemoglobin membawa oksigen dari darah. Juga pengaliran darah ke organ-organ vital dan jaringan-jaringan(seperti jantung, otak dan otot)akan berkurang. Secara timbulnya stress terhadap organ-organ vital,seperti jantung.
5.      Penyakit Yang Menyertai
Penyakit yang di derita membutuhkan lebih banyak zat gizi dan oksigen untuk pembentukan energi guna penyembuhan penyakit yang di derita.
Hemoglobin di dalam darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Mioglobin berperan sebagai reservoir oksigen : menerima, menyimpan dan melepas oksigen di dalam sel-sel otot. Sebanyak kurang lebih 80% besi tubuh berada di dalam hemoglobin (Sunita, 2001).
      Menurut Depkes RI adapun fungsi dari hemoglobin darah antara lain sebagai berikut (Sopny, 2010) :
1.      Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan-jaringan tubuh.
2.      Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa ke seluruh jaringan-jaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar.
3.      Membawa karbondioksida dari jaringan-jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk di buang, untuk mengetahui apakah seseorang itu kekurangan darah atau tidak, dapat diketahui dengan pengukuran kadar hemoglobin. Penurunan kadar hemoglobin dari normal berarti kekurangan darah yang disebut anemia.

Alat dan Bahan         :
·         Aquades
·         Darah EDTA
·         Hemoglobinometer
·         Reagen HCl 0,1N
Cara Kerja    :
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Dipipet HCl 0,1 N kedalam tabung sampai mencapai angka 2
3.      Dipipet darah EDTA sebanyak 20 µL
4.      Dimasukkan darah kedalam tabung berisi HCl
5.      Diinkubasi pada RT selama 10-15 menit
6.      Ditambahkan aquades sampai mencapai warna standar
7.      Diamkan 3-5 menit sampai yang terbentuk stabil
8.      Diamati kadar Hemoglobin







Hasil Pengamatan :






                                                                                             
Dibaca kadar HB dengan melihat volume dalam tabung reaksi sahli dengan membandingkan pada warna standar . Diperoleh kadar Hb Nn. Vanessa sebesar 13,0 g/dL.
Pembahasan    :
Pada saat praktikum metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah metode dengan menggunakan haemometer sahli untuk mengetahui kadar hemoglobin (Hb) karena metode ini dilakukan dengan cara sederhana, namun tetap membutuhkan keterampilan dan ketelitian dalam pengamatan angka Hemoglobin (Hb).
Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisi dengan HCl menjadi globin ferroheme. Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang akan segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna cokelat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat konstan, yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar. Karena yang membandingkan adalah dengan mata telanjang, maka subjektivitas sangat berpengaruh. Di samping faktor mata, faktor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan sebagainya dapat mempengaruhi hasil pembacaan. Meskipun demikian untuk  pemeriksaan di daerah yang belum mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode sahli ini masih memadai (Sopny, 2011).
Berdasarkan hasil pengamatan tentang kadar Hemoglobin (Hb) pada sampel Nn. Vanessa didapat kadar Hemoglobin (Hb) 13,0  g/dl. Batas normal kadar hemoglobin wanita adalah 12 gr/dl – 16 g/dl. Kadar Hb Nn. Vanessa dinyatakan normal karena masih dalam range normal.
Kesimpulan :
Dari sampel darah Nn. Vanessa didapatkan kadar Hemoglobin 13,0 g/dl. Maka Nn. Vanessa dinyatakan normal.
Daftar Pustaka :
·         Campbel,neil A. , jane B reece, Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Erlangga : Jakarta.
·         Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira. EGC: Jakarta.
·         Sawali. 2013. Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin Dan Hematokrit Pada Berbagai Jenis Itik Lokal  Terhadap Penambahan Probiotik Dalam Ransum http://download.portalgaruda.org/article.php?article=142301&val=5351.Diakses pada 22 Desember 2015.
·         Sopny. 2010. Kadar hemoglobin darah http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/ 20481/4/Chapter%20II.pdf. diakses pada 22 Desember 2015

Pewarnaan Hematoxylin-Eosin






Tujuan :
            Untuk mewarnain preparat jaringan.
Prinsip :
1.      Inti sel bersifat asam akan menarik zat/larutan yang bersifat basa, maka inti akan berwarna biru/ungu dari zat Hematoxylin.
2.      Sitoplasma bersifat basa dan akan menarik zat/larutan yang bersifat asam, maka sitoplasma akan berwarna merah dari zat Eosin.


Landasan Teori           :
            Staining yaitu mewarnai preparat dengan pewarnaan tertentu. Dalam pewarnaan ini sel dan komponen dalam jaringan akan menangkap molekul-molekul zat warna, tidak menimbulkan partikel-partikel zat warna pada jaringan, sehingga jaringan tampak transparan, biasaanya digunakan pewarnaan H-E.
            Jika disekitar sel dan komponen jaringan diendapkan garam logam berat sehingga logam tersebut tampak sebagai partikel-partikel disebut sebagai impregnation staining. Misalnya pengecatan dengan AgNO3.
Klasifikasi pewarnaan berdasarkan asal zat warna     :
a.       Natural Dyes, yaitu pewarnaan yang berasal dari alam seperti ekstrak tumbuh-tumbuhan atau hewan.
Misalnya :
Acid Carmine, pewarnaan yang berasal dari ekstrak serangga betina yang hidup di pohon kaktus di daerah tropis.
Hematoxylin, pewarnaan yang berasal dari getah pohon Hematoxyline campechianum.
b.      Syntetic Dyes, yaitu pewarnaan sintesis buatan.
Misalnya          : Benzene, Quinone, Anilline.
            Secara umum prinsip kerja pewarnaan adalah zat warna yang bersifat asam akan mewarnai bagian sel yang bersifat basa dan sebaliknya zat warna yang bersifat basa akan mewarnai bagian sel yang bersifat asam.
Berdasarkan waktu     :
a.       Direct Staining, yaitu pewarnaan yang apabila molekul zat warna langsung ditangkap oleh jaringan, misalnya Eosin.
b.      Indirect Staining,yaitu pewarnaan yang apabila molekul-molekul zat warna baru bisa ditangkap oleh jaringan apabila menggunakan zat perantara yang disebut Mordant, misalnya pewarnaan Hematoxyline yang menggunakan Potasium Alum sebagai mordantnya.
Mordant ini bisa dimasukan ke dalam zat warna langsung atau dibuat terpisah, dimana jaringan dimasukan terlebih dahulu ke dalam mordant baru kemudian di masukan ke dalam zat warna.
Tahapan pewarnaan H-E         :
  1.       Deparafinasi, suatu proses menghilangkan parafin dengan larutan xylol. Dapat digunakan xylol I dan xylol II masing-masing selama 2 menit.
  2. 2Menghilangkan xylol dengan alkohol melalui proses rehidrasi, yaitu dengan menggunakan larutan alkohol bertingkat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah (alkohol 96%, 90%, 80%, 70%,dan 50% masing-masing selama 2 menit).
    3.      Kemudian dilakukan pencucian dengan Aquadest selama 1 menit.
    4.      Dilakukan pewarnaan dengan Hematoxyline selama 3-5 menit
    5.      Pencucian dengan air selama 1 menit.
    6.      Kemudian dilakukan deferensiasi, yaitu pengurangan warna pada inti dan penghilangan warna pada sitoplasma dengan menggunakan larutan HCl 0,5% 1-2celup.
    7.      Selanjutnya dilakukan proses Blueing dengan menggunakan larutan Lithium Carbonat 0,5% selama 1-2 menit yang berfungsi menguatkan warna biru pada inti sel.
    8.      Pencucian dengan air selama 1 menit.
    9.      Pewarnaan dengan Eosin untuk mewarnai sitoplasma selama 1-3 menit.
    10.  Pencucian dengan Alkohol 90% 1-2 celup
    11.  Dilakukan dehidrasi dengan alkohol bertingkat dengan konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi masing-masing 2 menit.
    12.  Tahap clearing dengan menggunakan larutan xylol selama 2 mint
    13.  Kemudian memasuki tahapan mounting dengan meneteskan larutan entelan 1-2 tetes pada preparat jaringan yang berfungsi mengawetkan jaringan.
    14.  Kemudian tutup preparat dengan cover glass.
    15.  Jangan lupa untuk memberi label pada preparat.
    16.  Kemudian dapat dilakukan pengamatan di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x.
    Hasil Pengamatan preparat jaringan dengan pewarnaan H-E :
    a.       Organ Hati
    b.     Organ Jantung
     


    c.     Paru-paru

 
 

d.     Ginjal
Daftar Pustaka :
Durachim, Adang dan Dani Mahmud. 2015. HISTOTEKNOLOGI